Sumut Nesia – Perjalanan perkeretaapian di Sumatera Utara memiliki kaitan erat dengan perkembangan perkebunan dan perdagangan sejak masa kolonial. Kehadiran jalur rel pada akhir abad ke-19 awalnya ditujukan untuk memperlancar pengangkutan hasil perkebunan dari kawasan Deli menuju pelabuhan.
Dari jalur sederhana yang dilayani lokomotif uap, jaringan tersebut kemudian berkembang dan menjadi bagian penting dari sistem transportasi Sumatera Utara hingga saat ini.
Jalur Medan-Labuhan Jadi Awal Perkeretaapian Sumut
Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan sejarah kereta api di Sumatera Utara dimulai ketika kawasan Deli berkembang pesat sebagai sentra perkebunan, terutama tembakau yang menjadi komoditas ekspor.
Perusahaan kereta api swasta Belanda, Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), memperoleh konsesi untuk membangun jaringan perkeretaapian guna mendukung kegiatan ekonomi tersebut.
Jalur Medan-Labuhan menjadi jalur pertama yang dibuka dan mulai beroperasi pada 25 Juli 1886.
“Dengan berkembangnya perkebunan dan aktivitas perdagangan, jaringan rel kemudian meluas hingga menghubungkan Medan dengan Belawan, Binjai, Deli Tua, Perbaungan, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Tanjungbalai, Teluk Nibung, Kisaran, hingga Rantau Prapat,” ujar Anwar, Senin (28/9/2026).
Rel Kereta Mendukung Angkutan Hasil Perkebunan
Ekspansi jaringan rel tidak terlepas dari meningkatnya aktivitas perkebunan di Sumatera Utara.
Pada masanya, kereta api menjadi sarana penting untuk membawa berbagai komoditas dari sentra produksi menuju pelabuhan ekspor. Tembakau menjadi salah satu komoditas utama, disusul karet, kelapa sawit, dan berbagai hasil bumi lainnya.
Sekitar 1937, jaringan milik DSM tercatat telah mencapai panjang 553,2 kilometer.
Keberadaan jalur kereta api tersebut turut memperkuat konektivitas antara kawasan perkebunan, pusat perdagangan, dan pelabuhan yang menjadi pintu keluar berbagai komoditas dari Sumatera Utara.
Nasionalisasi DSM pada 1957
Perubahan besar terjadi setelah Indonesia merdeka. Pengelolaan jaringan kereta api di Sumatera Utara kemudian mengalami proses nasionalisasi.
Anwar menjelaskan, karakter peralihan perkeretaapian di Sumut memiliki sejarah tersendiri karena jaringan milik DSM dinasionalisasi pada 1957.
“Perkeretaapian di Sumatera Utara memiliki karakter dan sejarah peralihan yang khas. Berbeda dengan wilayah lain, proses peralihannya berlangsung melalui nasionalisasi perusahaan kereta api swasta Belanda, Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), setelah Indonesia merdeka pada 1957,” jelasnya.
Setelah nasionalisasi, aset dan jaringan eks-DSM masuk ke dalam sistem perkeretaapian negara yang kemudian berkembang hingga menjadi bagian dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) seperti sekarang.
Sejumlah Jalur Lama Berhenti Beroperasi
Perkembangan sistem transportasi dan perubahan aktivitas ekonomi membuat tidak seluruh jalur peninggalan DSM dapat terus dipertahankan.
Sejumlah jalur cabang yang dahulu digunakan untuk mendukung aktivitas perkebunan kemudian berhenti beroperasi. Beberapa di antaranya adalah jalur menuju Deli Tua, Bangun Purba, dan Pangkalan Brandan.
Berkurangnya kawasan perkebunan serta menurunnya kebutuhan pengangkutan komoditas menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberlangsungan jalur-jalur tersebut.
Jaringan Kereta Api Sumut Terus Berkembang
Meski sebagian jalur lama tidak lagi aktif, perjalanan panjang perkeretaapian Sumatera Utara terus berlanjut. Fungsi kereta api pun mengalami perubahan, dari yang sebelumnya banyak menopang pengangkutan hasil perkebunan menjadi moda transportasi yang melayani mobilitas masyarakat dan angkutan barang.
Saat ini, jaringan rel aktif di wilayah Sumatera Utara tercatat mencapai sekitar 476,46 kilometer.
Jejak sejarah sejak era tembakau Deli hingga jaringan perkeretaapian modern tersebut menunjukkan bagaimana kereta api telah menjadi bagian dari perkembangan ekonomi dan mobilitas masyarakat Sumatera Utara selama lebih dari satu abad.
Sumber: iNews Medan