Wisata

5 Kuliner Legendaris Solo yang Eksis Puluhan Tahun, Wajib Dicoba!

Kuliner Legendaris Solo (Foto: Dok. SHUTTERSTOCK/yopi adhi putranto)

Sumut Nesia – Solo bukan cuma terkenal dengan keraton, batik, dan suasana kotanya yang khas. Surakarta juga punya kekayaan kuliner tradisional yang seolah tidak pernah kehilangan penggemar. Bahkan, beberapa tempat makan di kota ini sudah bertahan selama puluhan tahun dan resepnya terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menariknya, sejumlah kuliner legendaris Solo sudah mulai berjualan sejak masa sebelum Indonesia merdeka. Ada yang berdiri pada era 1920-an, sementara lainnya telah melayani pelanggan sejak pertengahan abad ke-20.

Keberadaan warung-warung tua ini menjadi bagian dari cerita kuliner Solo. Bukan sekadar tempat makan, cita rasa yang dipertahankan selama puluhan tahun membuat pengalaman menyantap hidangan di tempat-tempat tersebut terasa berbeda.

Kalau kamu sedang berkunjung ke Solo dan ingin mencoba kuliner klasik, lima tempat berikut bisa masuk daftar perjalanan.

1. Es Dawet Telasih Bu Dermi, Segarnya Sudah Ada Sejak 1930

Berjalan-jalan di kawasan Pasar Gede Solo rasanya belum lengkap kalau belum mencicipi Es Dawet Telasih Bu Dermi.

Warung sederhana ini sudah berjualan sejak 1930 dan menjadi salah satu kuliner tradisional yang terus bertahan sampai sekarang. Lokasinya yang berada di kawasan Pasar Gede membuatnya cukup mudah ditemukan ketika kamu sedang menjelajahi pusat kuliner tradisional Solo.

Yang membuat es dawet ini menarik adalah isiannya yang cukup lengkap. Dalam satu mangkuk atau gelas, kamu bisa menemukan cendol, bubur sumsum, tape ketan, bubur ketan hitam, hingga biji telasih.

Perpaduan berbagai bahan tersebut menghasilkan rasa manis, gurih, dan segar. Cocok disantap setelah berkeliling pasar atau ketika cuaca sedang panas.

Harganya juga relatif terjangkau, yakni sekitar Rp10.000 per porsi. Tidak mengherankan jika kuliner ini tetap menjadi favorit warga lokal maupun wisatawan.

Es Dawet Telasih Bu Dermi bahkan pernah didatangi Presiden Joko Widodo. Popularitasnya semakin mengukuhkan warung tersebut sebagai salah satu bagian dari sejarah kuliner Solo.

2. Serabi Notosuman, Jajanan Klasik yang Tak Lekang Zaman

Kalau berburu jajanan tradisional di Solo, Serabi Notosuman hampir selalu masuk dalam daftar rekomendasi.

Serabi ini sudah hadir sejak 1923 sehingga usianya telah melewati satu abad. Meski zaman terus berubah dan pilihan makanan semakin beragam, serabi tradisional tersebut masih memiliki penggemar setia.

Salah satu daya tarik Serabi Notosuman terletak pada proses pembuatannya yang masih mempertahankan metode tradisional. Adonan berbahan tepung beras dan santan dimasak menggunakan cetakan kecil di atas tungku.

Hasilnya adalah serabi dengan tekstur lembut dan aroma khas santan. Tersedia pilihan rasa polos maupun cokelat yang bisa disesuaikan dengan selera.

Serabi Notosuman berada di Jalan Mohammad Yamin No. 28, Solo. Tempat ini mulai buka sekitar pukul 07.00 WIB dan bisa menjadi pilihan untuk sarapan ringan ataupun membeli oleh-oleh.

Harga per buahnya juga relatif murah, sekitar Rp3.000, meski harga dapat berubah mengikuti kondisi penjualan.

Buat kamu yang ingin membawa pulang oleh-oleh khas Solo dengan cita rasa klasik, serabi ini patut dipertimbangkan.

3. Soto Triwindu, Kuah Gurih yang Bertahan Sejak 1939

Solo juga punya pilihan kuliner legendaris untuk kamu yang lebih suka makanan berat. Salah satunya adalah Soto Triwindu.

Warung yang sudah berdiri sejak 1939 ini dikenal dengan soto daging sapi berkuah bening. Kuahnya terasa gurih dengan aroma kaldu yang cocok disantap terutama pada pagi atau siang hari.

Selain nasi dan kuah soto, pelanggan bisa memilih berbagai tambahan lauk. Ada empal, lidah, paru, babat, hingga otak yang bisa menambah rasa dan tekstur dalam satu hidangan.

Pelengkap seperti perkedel, tempe goreng, dan mendol juga tersedia bagi pengunjung yang ingin makan lebih lengkap.

Untuk harga, satu porsi soto campur berada di kisaran Rp18.000, sedangkan pilihan nasi yang disajikan terpisah sekitar Rp23.000.

Soto Triwindu berada di Jalan Teuku Umar, Surakarta. Tempat ini juga dikenal sebagai salah satu lokasi kuliner yang pernah menjadi favorit Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Kalau kamu ingin mencicipi soto dengan sejarah panjang, Soto Triwindu bisa menjadi salah satu tujuan kuliner yang menarik.

4. Timlo Sastro, Sarapan Hangat di Dekat Pasar Gede

Selain soto, ada satu lagi makanan berkuah khas Solo yang cocok disantap untuk mengawali hari, yaitu timlo.

Timlo Sastro telah menyajikan hidangan tersebut sejak 1952. Selama puluhan tahun, tempat makan ini tetap mempertahankan timlo sebagai menu andalannya.

Kuah timlo memiliki karakter bening dengan cita rasa gurih. Isiannya cukup beragam, mulai dari hati, ampela, ayam suwir, telur kecap, hingga sosis Solo.

Kombinasi tersebut membuat satu porsi timlo terasa cukup mengenyangkan. Apalagi jika disantap dalam kondisi hangat pada pagi hari.

Lokasi Timlo Sastro berada di kawasan Jalan Pasar Gede, dekat persimpangan Pasar Gede. Tempat ini buka setiap hari sekitar pukul 06.00-15.30 WIB.

Harga satu porsinya berada di kisaran Rp25.000. Bagi wisatawan yang ingin berburu kuliner pagi di Solo, Timlo Sastro bisa dimasukkan ke dalam itinerary sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat wisata lainnya.

5. Sate Kere Mbak Tug, Jajanan Khas Solo yang Unik

Buat kamu yang ingin mencicipi kuliner dengan karakter berbeda, Sate Kere Mbak Tug bisa menjadi pilihan.

Sate kere merupakan salah satu makanan khas Solo yang berbeda dari sate pada umumnya. Jika sate biasanya menggunakan potongan daging sebagai bahan utama, sate kere memanfaatkan jeroan.

Sate Kere Mbak Tug sudah dikenal sejak era 1950-an. Berbagai jenis jeroan seperti iso, babat, ginjal, dan bagian lainnya ditusuk kemudian dibakar hingga matang.

Setelah dibakar, sate disajikan dengan siraman bumbu kacang yang memiliki rasa gurih dan manis. Perpaduan aroma bakaran dengan bumbu kacang menjadi salah satu daya tarik makanan ini.

Satu porsi biasanya berisi sekitar 10 tusuk dengan harga kurang lebih Rp25.000.

Warung ini berada di Jalan Arifin No. 63, Kepatihan Kulon, Jebres, Solo. Sate Kere Mbak Tug cocok untuk kamu yang ingin mengenal kuliner tradisional Solo yang mungkin belum terlalu familiar bagi wisatawan dari luar daerah.

Kenapa Kuliner Legendaris Solo Masih Dicari?

Bertahannya tempat-tempat makan tersebut selama puluhan tahun tentu bukan tanpa alasan.

Salah satu faktor utamanya adalah konsistensi rasa. Ketika sebuah keluarga mempertahankan resep dan cara memasak dari generasi ke generasi, pelanggan lama biasanya memiliki alasan untuk kembali.

Selain itu, pengalaman makan di warung legendaris tidak hanya berkaitan dengan makanan. Suasana tempat, lokasi, cara penyajian, hingga cerita di balik berdirinya usaha turut memberikan pengalaman tersendiri.

Di tengah menjamurnya restoran modern, keberadaan warung lama justru menjadi pengingat bahwa kuliner tradisional masih mempunyai tempat di hati masyarakat.

Tips Kulineran di Solo Biar Makin Seru

Kalau kamu ingin berburu kuliner legendaris di Solo, sebaiknya jangan hanya mengandalkan satu lokasi. Beberapa tempat berada di kawasan yang cukup berdekatan sehingga bisa dimasukkan dalam satu rute perjalanan.

Pasar Gede, misalnya, bisa menjadi titik awal karena kawasan tersebut memiliki banyak pilihan kuliner tradisional. Kamu bisa menikmati minuman atau makanan ringan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat lain.

Perhatikan juga jam operasional. Warung yang telah lama berdiri sering kali memiliki jam buka tertentu dan bisa ramai pada waktu makan. Datang lebih awal dapat membuat pengalaman kuliner lebih nyaman.

Harga yang tercantum juga sebaiknya dijadikan sebagai perkiraan. Harga makanan dapat berubah, sehingga ada baiknya menyiapkan anggaran sedikit lebih agar perjalanan tetap nyaman.

Yang paling penting, jangan hanya datang untuk berfoto. Cobalah makanan yang menjadi menu andalan dan nikmati cerita di balik tempat tersebut. Dengan begitu, perjalanan kuliner di Solo tidak sekadar soal mengisi perut, tetapi juga mengenal sejarah dan budaya kota.

Kelima tempat tersebut menunjukkan bahwa kuliner Solo memiliki perjalanan panjang. Dari serabi yang telah berusia lebih dari satu abad, dawet yang bertahan sejak era 1930-an, hingga soto, timlo, dan sate kere yang tetap dicari sampai sekarang.

Buat kamu yang sedang menyusun itinerary wisata ke Solo, memasukkan kuliner legendaris seperti ini bisa membuat perjalanan terasa lebih lengkap. Selain menikmati makanan khas, kamu juga bisa merasakan bagian dari sejarah kota melalui resep yang terus bertahan selama puluhan tahun.

Tinggalkan komentar