Bisnis

Sektor Keuangan Sumut Terus Tumbuh, Literasi Keuangan Capai 71,57 Persen

Foto: Kharisma/iNewsMedan.id

Sumut Nesia – Perkembangan industri jasa keuangan di Sumatera Utara (Sumut) menunjukkan tren positif dalam satu tahun terakhir. Pertumbuhan tersebut terjadi di sektor perbankan maupun industri keuangan nonbank, seiring dengan semakin meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap layanan dan produk keuangan.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara, Triyoga Laksito, mengatakan perkembangan positif terlihat di berbagai subsektor jasa keuangan.

Industri Perbankan dan Keuangan Nonbank Terus Berkembang

Triyoga menyebut pertumbuhan tidak hanya terjadi pada perbankan, tetapi juga mencakup berbagai lembaga keuangan lainnya.

“Secara garis besar kondisi perbankan maupun lembaga keuangan lainnya seperti Perusahaan Pembiayaan, Modal Ventura, LKM, Fintech, Perusahaan Penjaminan, Perasuransian, Dana Pensiun, serta Pasar Modal selama setahun terakhir ini menunjukkan pertumbuhan yang bagus,” ujar Triyoga, Senin (28/9/2026).

Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya aktivitas masyarakat dalam memanfaatkan berbagai layanan sektor jasa keuangan.

Di sisi lain, tingkat literasi keuangan masyarakat Sumatera Utara tercatat mencapai 71,57 persen.

Sumut Ditopang Puluhan Entitas Perbankan

Dari sektor perbankan, aktivitas jasa keuangan di Sumut didukung oleh 56 entitas Bank Umum dengan jaringan sebanyak 5.526 kantor dan ATM.

OJK Sumatera Utara juga melakukan pengawasan langsung terhadap dua bank umum lokal, yakni Bank Mestika dan Bank Sumut.

Selain bank umum, terdapat 49 entitas Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah (BPRS) yang didukung 110 jaringan kantor.

Keberadaan jaringan tersebut menjadi bagian dari infrastruktur layanan keuangan yang menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Sumatera Utara.

Laku Pandai Perluas Akses Perbankan hingga Desa

Upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan juga dilakukan melalui program Laku Pandai.

Program tersebut melibatkan pelaku usaha lokal, termasuk toko kelontong, sebagai agen layanan keuangan. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 74.000 agen Laku Pandai yang tersebar dan menjangkau sekitar 94,5 persen desa dan kelurahan di Sumatera Utara.

Menurut Triyoga, keberadaan agen tersebut memberikan kemudahan bagi masyarakat yang tinggal jauh dari kantor bank maupun mesin ATM.

“Program ini sangat membantu masyarakat; jika sebelumnya ongkos menuju kantor cabang/ATM terdekat bisa mencapai Rp20.000, dengan Laku Pandai masyarakat cukup berjalan kaki ke toko kelontong terdekat untuk melakukan transaksi perbankan seperti transfer atau penarikan skala kecil,” jelasnya.

Literasi Keuangan Jadi Bagian Penting

Pertumbuhan industri jasa keuangan juga berjalan bersama dengan peningkatan literasi masyarakat. Tingkat literasi yang mencapai 71,57 persen menunjukkan semakin banyak masyarakat yang memahami produk dan layanan keuangan.

Perluasan akses melalui agen Laku Pandai menjadi salah satu langkah untuk mendekatkan layanan keuangan kepada masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan produk keuangan secara lebih luas.

OJK Sumut terus mendorong penguatan ekosistem sektor jasa keuangan agar pertumbuhan industri dapat diikuti dengan akses dan pemahaman masyarakat yang semakin baik.

Sumber: iNews Medan

Tinggalkan komentar