Internasional

Jerebu Malaysia Memanas, Pakar: Jangan Kerahkan Buzzer, Publik Butuh Transparansi Komunikasi

Foto: Ilustrasi/Gemini

KUALA LUMPUR – Konflik di ruang digital akibat bencana kabut asap atau jerebu yang menyelimuti Malaysia selama berbulan-bulan dinilai membutuhkan penanganan komunikasi yang jujur dan terbuka. Di tengah memanasnya “perang” antarwarganet lintas negara, pengerahan buzzer atau pendengung di media sosial untuk memanipulasi opini publik diperingatkan justru akan memperburuk situasi krisis.

Hal tersebut ditegaskan oleh Dr. Daniel Susilo, Senior Lecturer di Taylor’s University, saat menyoroti eskalasi ketegangan siber yang berlarut-larut. Menurutnya, respons terbaik untuk menghadapi kemarahan publik bukanlah dengan merekayasa sentimen di dunia maya, melainkan melalui kejelasan informasi dan komunikasi diplomatik tingkat tinggi yang disampaikan secara gamblang kepada masyarakat.

“Asap ini sudah berbulan-bulan di Malaysia, dan kita melihat dampaknya langsung memicu perang dunia maya di antara warganet yang semakin memanas. Dalam kondisi ini, kita sangat membutuhkan komunikasi diplomatik yang nyata. Jangan sampai ada pihak yang justru mengerahkan buzzer di medsos untuk mengalihkan isu atau menyerang opini warga,” ujar Dr. Daniel Susilo dalam keterangannya.

Pakar komunikasi tersebut mengingatkan bahwa penggunaan buzzer oleh pihak mana pun hanya akan menciptakan kebisingan baru, memperkeruh disinformasi, dan memancing provokasi yang lebih ekstrem. Publik yang terdampak langsung oleh kualitas udara buruk tidak membutuhkan narasi artifisial, melainkan tindakan riil dari negara.

Sebaliknya, masyarakat menuntut transparansi komunikasi publik yang berbasis fakta. Hal ini mencakup keterbukaan mengenai data kualitas udara, kendala pemadaman di lapangan, penegakan hukum terhadap korporasi pelanggar, hingga sejauh mana progres penyelesaian bilateral yang tengah diupayakan oleh otoritas kedua negara.

Kejelasan komunikasi publik dipandang sebagai kunci utama untuk meredam kepanikan dan mengembalikan kepercayaan masyarakat. Ketika pemerintah tampil transparan, mengakui skala masalah, dan menunjukkan langkah diplomasi yang konkret tanpa ditutup-tutupi, tensi perang warganet diyakini akan menurun dengan sendirinya karena publik merasa dihormati dan aspirasinya ditangani secara serius.

Tinggalkan komentar